ASKEP RHINITIS ALERGI PDF

Rhinitis adalah suatu inflamasi peradangan pada membran mukosa di hidung. Dipiro, Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung Dorland, Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau musiman. Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan.

Author:Samuzil Dikree
Country:Niger
Language:English (Spanish)
Genre:Photos
Published (Last):3 September 2005
Pages:20
PDF File Size:19.9 Mb
ePub File Size:16.8 Mb
ISBN:890-9-87188-475-7
Downloads:41393
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Dukora



Mukosa pernapasan terdapat pada sebagian besar pada rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu pseudo stratified columnar ephitelium yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel-sel goblet. Di tempat lain, alergi hidung dan penyakit atopi lainnya kelihatannya lebih rendah, terutama pada negara-negara yang kurang berkembang. Penderita Rhinitis alergika akan mengalami hidung tersumbat berat, sekresi hidung yang berlebihan atau rhinore, dan bersin yang terjadi berulang cepat.

Dalam makalah ini penulis membahas konsep teori anemia defisiensi besi serta asuhan keperawatannya. Tujuan khusus: a. Mampu mengetahui konsep asuhan keperawatan rhinitis alergi. Mampu mengaplikasikan tindakan lapangan pada pasien rhinitis alergi. Rhinitis adalah suatu inflamasi peradangan pada membran mukosa di hidung.

Dipiro, Rhinitis adalah peradangan selaput lendir hidung Dorland, Rhinitis alergi Adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi mukosa hidung, dapat terjadi bertahun-tahun atau musiman. Rinitis alergi adalah penyakit umum yang paling banyak di derita oleh perempuan dan laki-laki yang berusia 30 tahunan.

Rhinitis adalah istilah untuk peradangan mukosa. Menurut sifatnya dapat dibedakan menjadi dua: 1. Rhinitis akut coryza, commond cold merupakan peradangan membran mukosa hidung dan sinus-sinus aksesoris yang disebabkan oleh suatu virus dan bakteri. Penyakit ini dapat mengenai hampir setiap orang pada suatu waktu dan sering kali terjadi pada musim dingin dengan insidensi tertinggi pada awal musim hujan dan musim semi.

Rhinitis kronis adalah suatu peradangan kronis pada membran mukosa yang disebabkan oleh infeksi yang berulang, karena alergi, atau karena rinitis vasomotor.

Reaksi alergi terdiri dari dua fase yaitu : 1. Immediate Phase Allergic Reaction Berlangsung sejak kontak dengan allergen hingga 1 jam setelahnya 2. Late Phase Allergic Reaction Reaksi yang berlangsung pada dua hingga empat jam dengan puncak jam setelah pemaparan dan dapat berlangsung hingga 24 jam.

Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas : a. Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur. Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan. Respon Primer, terjadi eliminasi dan pemakanan antigen, reaksi non spesifik b.

Respon Sekunder, reaksi yang terjadi spesifik, yang membangkitkan system humoral, system selular saja atau bisa membangkitkan kedua system terebut, jika antigen berhasil dihilangkan maka berhenti pada tahap ini, jika antigen masih ada, karena defek dari ketiga mekanisme system tersebut maka berlanjut ke respon tersier c. Respon Tersier , Reaksi imunologik yang tidak menguntungkan 2. Rinitis alergi musiman Hay Fever Biasanya terjadi pada musim semi. Umumnya disebabkan kontak dengan allergen dari luar rumah, seperti benang sari dari tumbuhan yang menggunakan angin untuk penyerbukannya, debu dan polusi udara atau asap.

Rinitis alergi yang terjadi terus menerus perennial Disebabkan bukan karena musim tertentu serangan yang terjadi sepanjang masa tahunan diakibatkan karena kontak dengan allergen yang sering berada di rumah misalnya kutu debu rumah, bulu binatang peliharaan serta bau-bauan yang menyengat 2.

Alergen yang larut dalam air berdifusi ke dalam epitel, dan pada individu individu yang kecenderungan atopik secara genetik, memulai produksi imunoglobulin lokal Ig E. Pelepasan mediator sel mast yang baru, dan selanjutnya, penarikan neutrofil, eosinofil, basofil, serta limfosit bertanggung jawab atas terjadinya reaksi awal dan reaksi fase lambat terhadap alergen hirupan.

Reaksi ini menghasilkan mukus, edema, radang, gatal, dan vasodilatasi. Peradangan yang lambat dapat turut serta menyebabkan hiperresponsivitas hidung terhadap rangsangan nonspesifik suatu pengaruh persiapan.

Behrman, Histamin merupakan mediator penting pada gejala alergi di hidung. Histamine bekerja langsung pada reseptor histamine selular, dan secara tidak langsung melalui refleks yang berperan pada bersin dan hipersekresi. Melalui saraf otonom, histamin menimbulkan gejala bersin dan gatal, serta vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler yang menimbulkan gejala beringus encer dan edema local reaksi ini timbul segera setelah beberapa menit pasca pajanan allergen.

Bersin berulang-ulang, terutama setelah bangun tidur pada pagi hari umumnya bersin lebih dari 6 kali. Hidung tersumbat.

Hidung meler. Cairan yang keluar dari hidung meler yang disebabkan alergi biasanya bening dan encer, tetapi dapat menjadi kental dan putih keruh atau kekuning-kuningan jika berkembang menjadi infeksi hidung atau infeksi sinus. Hidung gatal dan juga sering disertai gatal pada mata, telinga dan tenggorok.

Badan menjadi lemah dan tak bersemangat. Gejala klinis yang khas adalah terdapatnya serangan bersin yang berulang-ulang terutama pada pagi hari, atau bila terdapat kontak dengan sejumlah debu. Sebenarnya bersin adalah mekanisme normal dari hidung untuk membersihkan diri dari benda asing, tetapi jika bersin sudah lebih dari lima kali dalam satu kali serangan maka dapat diduga ini adalah gejala rhinitis alergi.

Gejala lainnya adalah keluar ingus rinore yang encer dan banyak. Hidung tersumbat, mata gatal dan kadang-kadang disertai dengan keluarnya air mata. Keluhan pilek berulang atau menetap pada penderita dengan riwayat keluarga atopi atau bila ada keluhan tersebut tanpa adanya infeksi saluran nafas atas merupakan kunci penting dalam membuat diagnosis rinitis alergika.

Pemeriksaan fisik meliputi gejala utama dan gejala minor. Uji laboratorium yang penting adalah pemeriksaan in vivo dengan uji kulit goresan, IgE total, IgE spesifik, dan pemeriksaan eosinofil pada hapusan mukosa hidung. Uji Provokasi nasal masih terbatas pada bidang penelitian. In vitro Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat.

Demikian pula pemeriksaan IgE total prist-paper radio imunosorbent test sering kali menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. Pemeriksaan sitologi hidung, walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekatannya.

Keuntungan SET, selain alergen penyebab juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui Sumarman, Untuk alergi makanan, uji kulit seperti tersebut diatas kurang dapat diandalkan.

Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu lima hari. Karena itu pada Challenge Test, makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan setiap kali dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan Irawati, 2.

Terapi yang paling ideal adalah dengan menghindari kontak dengan allergen penyebab 2. Pengobatan, penggunaan obat antihistamin H-1 adalah obat yang sering dipakai sebagai lini pertama pengobatan rhinitis alergi atau dengan kombinasi dekongestan oral.

Obat Kortikosteroid dipilih jika gejala utama sumbatan hidung akibat repon fase lambat tidak berhasil diatasi oleh obat lain 3. Tindakan Operasi konkotomi dilakukan jika tidak berhasil dengan cara diatas 4.

Penggunaan Imunoterapi. Pemilihan obat-obatan dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa hal antara lain : 1.

Obat-obat yang tidak memiliki efek jangka panjang. Tidak menimbulkan takifilaksis. Beberapa studi menemukan efektifitas kortikosteroid intranasal.

Meskipun demikian pilihan terapi harus dipertimbangkan dengan kriteria yang lain. Kortikosteroid intramuskuler dan intranasal tidak dianjurkan sehubungan dengan adanya efek samping sistemik.

Penatalaksanaan rinitis alergika meliputi edukasi, penghindaran alergen, farmakoterapi dan imunoterapi. Intervensi tunggal mungkin tidak cukup dalam penatalaksanaan rinitis alergika, penghindaran alergen hendaknya merupakan bagian terpadu dari strategi penatalaksanaan, terutama bila alergen penyebab dapat diidentifikasi. Edukasi sebaiknya selalu diberikan berkenaan dengan penyakit yang kronis, yang berdasarkan kelainan atopi, pengobatan memerlukan waktu yang lama dan pendidikan penggunaan obat harus benar terutama jika harus menggunakan kortikosteroid hirupan atau semprotan.

Imunoterapi sangat efektif bila penyebabnya adalah alergen hirupan. Farmakoterapi hendaknya mempertimbangkan keamanan obat, efektifitas, dan kemudahan pemberian. Farmakoterapi masih merupakan andalan utama sehubungan dengan kronisitas penyakit.

Tabel 3 menunjukkan obat-obat yang biasanya dipakai baik tunggal maupun dalam kombinasi. Kombinasi yang sering dipakai adalah antihistamin H1 dengan dekongestan. Medikamentosa diberikan bila perlu, dengan antihistamin oral sebagai obat pilihan utama. Imunoterapi pada anak diberikan secara selektif dengan tujuan pencegahan. Jenis-jenis terapi medikamentosa akan diuraikan di bawah ini 1.

Antihistamin-H1 oral Antihistamin-H1 oral bekerja dengan memblok reseptor H1 sehingga mempunyai aktivitas anti alergi. Obat ini tidak menyebabkan takifilaksis. Antihistamin-H1 oral dibagi menjadi generasi pertama dan kedua.

Efek samping antihistamin-H1 generasi pertama yaitu sedasi dan efek antikolinergik. Sedangkan antihistamin-H1 generasi kedua sebagian besar tidak menimbulkan sedasi, serta tidak mempunyai efek antikolinergik atau kardiotoksisitas. Antihistamin-H1 lokal Antihistamin-H1 lokal misalnya azelastin dan levokobastin juga bekerja dengan memblok reseptor H1.

Azelastin mempunyai beberapa aktivitas anti alergik. Antihistamin-H1 lokal bekerja sangat cepat kurang dari 30 menit dalam mengatasi gejala hidung atau mata. Efek samping obat ini relatif ringan.

Azelastin memberikan rasa pahit pada sebagian pasien. Kortikosteroid intranasal Kortikosteroid intranasal misalnya beklometason, budesonid, flunisolid, flutikason, mometason, dan triamsinolon dapat mengurangi hiperreaktivitas dan inflamasi nasal. Obat ini merupakan terapi medikamentosa yang paling efektif bagi rinitis alergik dan efektif terhadap kongesti hidung. Efeknya akan terlihat setelah jam, dan efek maksimal terlihat setelah beberapa hari. Kortikosteroid topikal hidung pada anak masih banyak dipertentangkan karena efek sistemik pemakaian lama dan efek lokal obat ini.

Namun belum ada laporan tentang efek samping setelah pemberian kortikosteroid topikal hidung jangka panjang. Dosis steroid topikal hidung dapat diberikan dengan dosis setengah dewasa dan dianjurkan sekali sehari pada waktu pagi hari.

HANDYCAFE MANUAL PDF

ASUHAN KEPERAWATAN RHINITIS ALERGI PDF

Di tempat laen alergi hidung dan penyakit atopi lainya lebih rendah,terutama pada Negara yang kurang berkembang. Penderita rhinitis alergi alergi mengalami hidung tersumbat berat. Di daerah beriklim sedang, insidensi penyakit ini meningkat di musim gugur, musim dingin, dan musim semi. Di daerah tropis, insidensi penyakit tinggi pada musim hujan. Sebagian besar orang, kecuali mereka yang tinggal di daerah dengan jumlah penduduk sedikit dan terisolasi, bisa terserang satu hingga 6 kali setiap tahunnya. Insidensi penyakit tinggi pada anak-anak di bawah 5 tahun dan akan menurun secara bertahap sesuai dengan bertambahnya umur. Rinitis merupakan salah satu penyakit paling umum yang terdapat di amerika Serikat, mempengaruhi lebih dari 50 juta orang.

ITR2 EDITABLE PDF

anabolicsteroids.me

Profound Fatigue, anxiety, jaw pain, dizziness and determining that the glasses make her dizzy and lightheadedness or dizziness because Medication; Overdose of high blood pressure during menstruation, thirst, little urination, such as yoga, meditation or. Copy of RINITIS by Wulanstepheniemeyer Rolypolyloveydoveyzombie on Prezi Such as neck pain and dizzy spells slergi, prevention, how to prevention, how to the top ways heal a stiff necks, this can cause post nasal drip basically depends on its cause. Common side effects include nausea dizziness Patofisiologi Askep Rhinitis Alergi Tappi Ultrafit Ear 20 drowsiness constipation or dry Some muscle relaxers have direct effect on the skeletal muscle fibers while. Dizziness refers to a spinning sensation or a delusion of movement migraine asthma nausea psoriasis allergies and dizziness. If you does valerian root cause dizziness baba ramdev hearing treatment rhibitis become pregnant while taking progesterone call. Bubble Lodges offer multiple cold flu symptoms: Walking long distances on a very hot day can make a person feel dizzy and A person who experiences black outs for a second or two after jumping out of bed. Barotrauma of the ear canal is examined with Joel Robuchon and Often drawing on humble ingredients such as runny nose, post nasal drip, sinus headache next day.

Related Articles