JURNAL UDANG GALAH PDF

Pada pemijahan udang, proses perkawinan sangat dipengaruhi dan berkaitan erat dengan proses moulting pergantian kulit pada induk betina. Dalam hal ini proses moulting dan pemijahan dipengaruhi oleh kelenjar hormon yang terdapat pada tangkai mata. Sebelum terjadinya proses perkawinan, udang betina berganti kulit terlebih dahulu yang disebut premattingmoult. Setelah udang betina mengalami pergantian kulit, keadaannya menjadi lemah.

Author:Mazugul Vushicage
Country:Lesotho
Language:English (Spanish)
Genre:Personal Growth
Published (Last):10 April 2012
Pages:468
PDF File Size:6.44 Mb
ePub File Size:9.11 Mb
ISBN:267-8-49099-969-2
Downloads:30345
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Nagore



Pada pemijahan udang, proses perkawinan sangat dipengaruhi dan berkaitan erat dengan proses moulting pergantian kulit pada induk betina. Dalam hal ini proses moulting dan pemijahan dipengaruhi oleh kelenjar hormon yang terdapat pada tangkai mata.

Sebelum terjadinya proses perkawinan, udang betina berganti kulit terlebih dahulu yang disebut premattingmoult. Setelah udang betina mengalami pergantian kulit, keadaannya menjadi lemah. Pada saat inilah perkawinan akan terjadi. Perkawinan udang galah berlangsung secara sederhana.

Udang jantan akan mengeluarkan spermanya dan sperma tersebut akan ditampung pada spermatheca diantara kaki jalan betina. Proses selanjutnya adalah proses pembuahan yang terjadi di luar tubuh induknya. Kejadian ini berlangsung pada saat telur turun melalui lubang kelamin, yang kemudian akan dipindahkan ke tempat pengeraman.

Telur yang terdapat pada spermatheca akan dibuahi oleh sperma. Setelah pembuahan berlangsung, telur diletakkan pada ruang pengeraman yang terdapat diantara kaki renang induk betina hingga saatnya menetas.

Di alam bebas proses pemijahan umunya terjadi di muara sungai. Di daerah tropis seperti Indonesia proses pemijahan sangat mungkin terjadi sepanjang tahun. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi adalah : 1. Mudah memperoleh air tawar yang bersih, jernih, dan bebas dari limbah 2.

Tersedia aliran listrik selama 24 jam 3. Tanah dasar bak cukup stabil 4. Dekat dengan pemasok nauplius, pakan, dan daerah pemasaran. Air Laut Air laut ini diperlukan untuk pengenceran dalam membuat air payau. Sumber udara ini dapat berasal dari blower. Jumlah aerator yang dibutuhkan tergantung dari volume air yang tersedia. Tenaga Listrik Listrik ini dibutuhkan untuk peneranagn, menjalankan blower, pompa air, heater, dll. Listrik dapat berasl dari PLN, tetapi karena listrik dapat terputus maka perlu disediakannya generator pembangkit listrik.

Wadah Penetasan dan Pemeliharaan Wadah pemijahan yang dapat digunakan antara lain antara lain : kolam tanah, bak beton, bak serat kaca maupun akuarium. Penggunaan wadah tersebut sangat terkait dengan tingkat penanganan yang akan diterapkan, sebagai contoh pemijahan induk di akuarium memerlukan penanganan yang lebih dimana memerlukan sistem aerasi, pergantian air yang rutin bahkan mungkin pemanas air, sementara jumlah induk yang dipeliharapun terbatas.

Persyaratan wadah untuk kolam pemijahan adalah sama seperti halnya wadah pemeliharaan untuk pematangan. Kolam memiliki pemasukan air dan pintu pengeluaran. Untuk hal ini dapat digunakan daun kelapa dan ranting pohon. Bejana ini dilengkapi pula dengan aerator.

Ukuran induk betina diatas 40 gr dan jantan diatas 50 gr 2. Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya, belum dipijahkan lebih dari 7 kali. Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat Dalam pengamatan produksi di lapangan, hasil kegiatan pemijahan biasanya dapat dievaluasi setelah 21 hari, dari mulai induk disatukan dalam wadah pemijahan. Seleksi induk matang telur dilakukan dengan mengeringkan kolam pemijahan, kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari.

Pagi hari sebaiknya kolam sudah kering dan induk tertampung semua dalam kobakan, pada kondisi ini air sebaiknya terus mengalir. Oleh karena itu sistem kemiringan kolam, kemalir dan kobakan harus diterapkan dengan baik, sehingga induk terjaga dari kematian. Dalam pengelolaan suatu unit usaha pembenihan udang galah, jumlah induk yang dikelola sangat menentukan bagi keberhasilan suatu perencanaan produksi. Setelah target produksi juvenil post larva ditetapkan sesuai dengan beberapa pertimbangan ekonomis, maka mulailah dilakukan perhitungan secara mundur berapa jumlah induk yang harus dikelola, agar target produksi tersebut dapat dicapai.

Terkait dengan Induk dan pengelolaanya maka beberapa hal yang perlu dicatat dan diperhatikan dalam perencanaan produksi antara lain sebagai berikut: 1. Jumlah telur yang dihasilkan oleh betina fecundity. Sangat terkait dengan ukuran induk yang digunakan, dan tingkat pemeliharaan yang dilakukan terkait pengelolaan air dan pakan yang diberikan, 2. Data ini mencerminkan kualitas telur yang dihasilkan, 3. Data jumlah prosentase jumlah induk yang bertelur dan matang telur dihubungkan jumlah betina seluruhnya, 4.

Jumlah jantan dan betina yang digunakan perbandingannya sesuai. Perbandingan jantan dan betina dalam kegiatan pemijahan tergantung dari tujuannya. Perbandingan jantan : betina 1 : 3 adalah sangat umum dilakukan untuk suatu kegiatan produksi benih sebar untuk keperluan pembesaran. Walaupun proses perkawinan dipengaruhi proses moulting, yang mana terkait dengan kelenjar hormon yang ada pada tangkai mata, namun dalam proses pemijahan, tidak lazim dilakukan pemotongan tangkai mata ablasi untuk merangsang terjadinya proses tersebut.

Sebelum terjadi pemijahan udang betina terlebih dahulu berganti kulit premating moult. Pada kondisi ini udang lemah, setelah pulih kembali terjadilah pemijahan. Perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3. Dalam usaha budidaya, benih merupakan faktor penentu dan mutlak harus disediakan. Untuk memenuhi pangsa pasar di luar maupun dalam negeri, diperlukan kesinambungan produksi dan ketersediaan suplai benih yang memenuhi syarat baik kuantitas maupun kualitas.

Jumlah pemberian pakan pada malam hari dianjurkan lebih banyak. Artemia salina banyak digunakan sebagai pakan alami. Artemia salina yang digunakan yang masih dalam stadium naupilus. Cara penetasan kista Artemia salina : 1. Kista direndam di dalam larutan klorin 1,55 ppm selama 30 menit 2.

Kista yang mengendap dicuci dengan air tawar bersih 3. Ditiriskan 4. Kista dimasukkan ke air payau yang beraerasi Panen naupilus dilakukan setelah 24 jam untuk pakan larva yang berumur kurang dari 15 hari, sedangkan untuk pakan larva 15 hari hingga pascalarva diberikan naupilus yang telah berumur 48 jam.

Jumlah yang diberikan tergantung dari umur larva, semakin besar larva maka akan semakin banyak kebutuhan naupilusnya. Pakan alami diberikan 3 kali. Pakan buatan tersebut dibuat dengan cara : 1. Semua bahan kecuali udang dihaluskan dengan blender 2. Udang dubuang bagian kepala dan kulitnya 3.

Udang digiling 4. Udang disatukan dengan seluru adonan, lalu dihaluskan 5. Adonan dimasukkan ke dalam loyang, lalu dikukus 6. Direndam dengan air 7. Hal ini untuk menghindari dampak negatif kualitas air. Kemudian larva dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pemeliharaan larva tersebut antara lain kualitas air dan pemberian pakan baik pakan alami maupun pakan adonan yang disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Kadar garam media pemeliharaan larva 10 ppt.

Setelah seluruh larva menjadi juvenil, kadar garam diturunkan secara bertahap sampai 0 ppt, grading mulai dilakukan setelah larva berumur 30 hari, lalu pada hari ke 45 juvenil siap untuk dipasarkan. Pemberian pakan untuk larva dilakukan dengan cara : 1. Aerator dimatikan agar larva yang berda di dasar dapat naik ke permukaan. Pakan ditaburkan secara merata 3. Aerator dinyalakan. Setiap harinya dilakukan pembersihan bak pemeliharaan dengan cara : 1.

Aerator dan heater dimatikan 2. Aerator dan heater dibersihkan 7. Aerator dan heater difungsikan kembali. Lalu terjadi kematian massal dalam waktu yang singkat. Untuk mencegahnya, perlu dilakukan chlorinasi media dan pemgeringan bak serta fasilitas lain selama seminggu. Penyakit merupakan salah satu faktor pembatas keberhasilan pembenihan udang galah. Penyakit yang biasa timbul adalah penyakit bakterial yangberupa Vibro sp. Pembenihan Udang Galah Macrobrachium rosenbergii de Man.

Laporan Kerja Praktek Mahasiswa Biologi. Institut Teknologi Bandung Diposting oleh hotel anita di.

JUNIOR LABYRINTH SPIELANLEITUNG PDF

TEKNIK PEMBENIHAN UDANG GALAH.pdf

Permintaan pasarnya pun sampai saat ini cenderung meningkat, sedangkan penangkapan udang galah di alam semakin sulit, sehingga perlu dikembangkan usaha budidayanya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan benih dalam jumlah yang cukup dan kualitas yang baik. Badan udang terdiri atas 3 bagian : kepala dan dada cephalotorax , badan abdomen serta ekor uropoda. Cephalotorax dibungkus oleh kulit keras, dibagian depan kepala terdapat tonjolan karapas yang bergigi disebut rostrum pada bagian atas sebanyak buah dan bagian bawah buah. Pada udang jantan pasangan kaki jalan kedua tumbuh panjang dan cukup besar dapat mencapai 1,5 kali panjang badan, sedangkan pada betina relatif kecil dari yang jantan. Udang galah hidup pada dua habitat, pada stadia larva hidup di air payau dan kembali ke air tawar pada saat stadia juwana juvenil hingga dewasa.

DR LAWRENCE DUNEGAN PDF

.

CMR VRACHTBRIEF PDF

.

Related Articles